IMAN DAN KEHIDUPAN
Oleh : Thufail AM., SAg., M.Hum
Bendahara Majelis Wakaf dan ZIS PWM DIY
Menurut banyak riwayat, saat sahabat Bilal disiksa oleh kaum kafir Quraisy, dia selalu mengatakan kata satu kata “ahad’. Kata itu terus diucapkan berulang-ulang, dan dengan mengucapkan kata itu sahabat Bilal dapat bertahan untuk tidak mengeluh ataupun mengaduh, walau bentuk siksaan yang diterimanya sudah sudah berada di luar batas kemanusiaan. Dengan satu kata itu tujuan utama para bangsawan Quraisy yang menyiksa seorang budak hitam gagal diwujudkan. Kesombongan para Bangsawan Quraisy itu telah dikalahkan secara telak oleh seorang Bilal, budak hitam yang tidak diketahui asal-usulnya.
Kata yang diucapkan secara berulang-ulang oleh sahabat Bilal itu tentu saja bukan sejenis mantra kekebalan ataupun mantra untuk menghilangkan rasa sakit. Kata yang diucapkan Bilal adalah wujud keimanan yang telah tertanam di dalam hatinya. Bilal telah memenuhi semua ruang yang ada di dalam hatinya dengan keyakinan akan keesaan Allah, Tuhan yang tunggal yang sangat mengasihi semua makhluk-Nya tanpa memandang status ningrat dan jelata, kaya dan miskin, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan ataupun budak dan merdeka.
Oleh karena semua ruang di dalam hatinya telah dipenuhi oleh keyakinan akan kemahabesaran Allah yang ahad, Bilal tidak lagi merasakan sakitnya jasad yang dipanggang sinar matahari dan dicambuk berulang kali.
Saat menceritakan kisah Bilal Bin Rabbah ini, guru Madrasah penulis selalu menutupnya dengan kalimat sebagai berikut: Kalau kamu mempunyai iman di dalam hatimu maka tidak akan ada halangan yang perlu kamu takutkan. Karena Allah selalu berbuat baik kepadamu maka kalau kamu mempunyai iman maka kamu akan selalu berbuat baik kepada sesamamu.
Guru madsrasah saya kemudian mengutip ayat Lan tanalul bira khatta tunfiqu mimma tuhibbun, yang olehnya diterjemahkan menjadi, Kalian tidak akan sebut telah berbuat kecuali kalian itu rela memberikan yang terbaik bagi sesamamu. Kalau kerjabakti ya harus ikhlas dan minimal sesemangat dan seserius ketika kamu mengerjakan pekerjaanmu sendiri. Ketika kamu beramal dan memberikan sesuatu barang, berikanlah yang terbaik yang kamu miliki, jangan sampai pakaian yang kalau kamu sudah malu memakainya malah yang kamu berikan kepada orang lain.
Kalau saat ini kita masih merasa dan mengaku mempunyai keimanan, itu adalah sesuatu yang seharusnya kita syukuri karena kita termasuk orang yang mendapatkan petunjuk-Nya, kita termasuk orang yang dipilih-Nya untuk dapat lebih banyak berbuat baik dari pada yang lain.
Dengan adanya iman di dalam hati, cita-cita hidup seorang manusia relatif lebih tertata, dia akan mempunyai kesatuan tekad untuk berbuat sesuatu. Kalau pada masa awal Islam, umat Islam hampir selalu memenangkan perang melawan kaum kafir yang jumlahnya berlipat ganda, itu bukan karena mukjizat dan kematangan strategi semata, tetapi kemenangan itu ditunjang oleh kekuatan motivasi keimanan yang ada di dalam hati para sahabat generasi pertama Islam itu.
Dengan keimanan yang terus menyala, mereka tidak telah kehilangan rasa takut kehilangan sesuatu, kalau terbunuh mereka yakin mendapatkan syurga kalau menang mereka mendapatkan kemuliaan. Kisah perang uhud mempertegas hal ini. Walau jumlahny sangat tidak sebanding dengan pasukan kafir, pada bagian awal peperangan kaum muslimin dapat memenangkan peperangan karena motivasi meraka berperang adalah semata-mata untuk menyelamatkan keyakinan meraka terhadap Allah. Tetapi ketika motivasi mereka bergeser menjadi demi ghanimah, mereka dapat dicerai beraikan oleh pasukan kafir. Sejarah juga mencatat itulah satu-satunya peperangan yang gagal dimenangkan oleh kaum muslim ketika dipimpin Rasulullah.
Iman itu harus diwujudkan
Dari kisah perang uhud, dapat ditarik semacam kesimpulan bahwa iman itu menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila terus diabadikan di dalam hati dan diwujudkan di dalam tindakan nyata.
Dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 177 Allah berfirman: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah neriman kepada Allah, hari kemudian, maalikat-mlaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafair (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirian shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.
Menurut riwayat, ayat ini diturunkan untuk menjawab kritikan kaum Nashrani terhadap Nabi Muhammad yang memindahkan Kiblatnya dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Mereka menganggap Muhammad sebagai orang yang mencla-mencle dan tidak mempunyai kebaikan dalam keimanan. Maka Allah menurunkan ayat ini yang menerangkan bahwa kebaikan yang mejadi bukti benarnya suatu iman iyu tidak sekedar penentuan kiblat. Kiblat shalat bukanlah tujuan yang hanya terhenti di situ saja tetapi kiblat shalat adalah sarana yang harus diteruskan dengan tindakan nyata yang berupa tindakan-tindakan sebagaimana yang tercantum dalam ayat itu.
Dari ayat ini juga dapat ditarik semacam kesimpulan bahwa orang yang tidak mau memberkan harta yang dicintainya, tidak mau membayar zakat, tidak menepati janji, tidak menolong yang membutuhakn adalah orang imannya tidak benar, meskipun dia setiap hari berteriak mengaku paling beriman dan mengetahui seluruh hukum moral yang tercantum di dalam seluruh kitab suci.
Dalam suatu hadis yang cukup popluler yang diriwayatkan Malik, Nabi Muhammad bersabda, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Menurut Ahmad Tohari, akhlak mencakup dimensi yang sangat luas. Iman dan ibadah semuanya bermuara kepada pembentukan kesempurnaan akhlak, maka nabi tidak pernah bersabda bahwa dia diutus untuk menyempurankan shalat, ataupun ibadah yang lain, tetapi dia diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.
Akhlak adalah perbuatan dan perilaku keseharian yang dilakukan oleh seoarang munusia. Akhlak ini biasanya merupakan cermin dari hati pemiliknya. Iman yang baik akan menjamin akhlak yang mulia. Demkian pula sebaliknya, akhlak yang bejat adalah pratanda palsunya keimanan.
Pernyataan Nabi di dalam hadis ini tidak berarti shalat dan ibadah yang lainnya itu tidak penting dan boleh ditinggalkan. Shalat dan ibadah yang lain juga mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam agama Islam. Tetapi semua peribadatan itu tidak bleh hanya terhenti pada peribadatan semata. Tetapi masih harus diteruskan di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, syurga tidak cukup hanya ditebus dengan shalat tanpa perbuatan baik lainnya.Syurga tidak akan bisa dimasuki seorang diri tetapi harus ditempuh dengan jalan menyantuni sesama.
Setiap tahun, jumlah jamaah haji Indonesia selalu mengalami peningkatan jumlah, setaip tahun pemerintah RI selalu meminta penambahan kuota kepada pemerintah Saudi, tetapi berapapun jumlah kuota itu ditambah, kuota itu selalu tidak mencukupi. Kursi haji 2010 sudah penuh sebelum tahun 2008. Angka-angka ini tentunya sangat mengembirakan, karena menggambarkan betapa shalehnya orang Islam Indonesia yang selalu antre beribadah haji bahkan banyak yang mengulanginya. Tetapi, mengapa pula jumlah penderita gizi buruk juga terus bertambah sepanjang tahun? Mengapa sampai ada kejadian seorang ibu hamil yang meninggal dunia dalam keadaan kelaparan?
Ada seoarang teman yang mejawab, karena dana yang seharusnya bisa digunakan untuk membelikan makanan kepada mereka yang kelaparan itu habis digunakan untuk menyuap petugas haji agar kita bisa menggunakan kuota haji propinsi lain, atau dana yang seharusnya dapat digunakan untuk meringankan kelaparan saudara kita itu, habis kita gunakan untuk memalsu data, agar kita tidak diketahui pernah haji dua kali.
Semua orang Muhammadiyah pasti sudah mengetahui kisah KHA Dahlan dan surat Al-Maun yang terus diulang-ulangnya sehinga para muridnya bosan menyimaknya. Namun, sudahkan semua orang Muhammadiyah mengamalkan ajaran yang ada di dalam surat Al-Ma’un itu? Mungkin kita juga masih termasuk orang yang shalat tetapi justeru malah celaka. Yaitu , kita berteriak paling beriman tetapi membiarkan saudara kita mengerang kelaparan, kita yang berujar paling bertauhid, paling sholeh, dan bersih dari sepilis tetapi menyuap petugas haji agar bisa masuk syurga, seorang diri.
Kata Ranggawarsito, Kita yang seperti di atas memang akan dimasukkan syurga, tetapi syurga yang berada di pucuk pohon bambu, syurga para iblis yang menyesatkan diri.
_____________
Tulisan ini pernah dimuat majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 07 tahun 2008 (1 April 2008)
0 komentar:
Poskan Komentar